Fatwa MUI

A+ A A-

Komentar Ulama : Hukum Puasa Bulan Rajab

Majlis al-Islami li-Iftaa – Baitul Maqdis

Majlis Al-Islami lil-Iftaa merupakan dewan fatwa yang ada di Baitul Maqdis, Palestina. Dewan fatwa tersebut pernah ditanya mengenai puasa di bulan Rajab. Berikut inti sari jawaban fatwa yang dikeluarkan :

 

Pendapat jumhur Fuqaha’ dari kalangan madzhab Hanafiyah (Abu Hanifah), Malikiyah (Malik bin Anas), Syafi’iyah (Muhammad bin Idris) menyatakan kesunnahan puasa pada bulan-bulan yang dimulyakan (Asyhurul Hurum) dan bulan Rajab termasuk Asyhurul Hurum.
 
Telah dikeluarkan fatwa didalam Al-Fatawa al-Hindiyah (1/202) : “Puasa-puasa yang dianjurkan diantaranya adalah puasa Muharram, puasa Rajab, puasa Sya’ban dan puasa ‘Asyura’”.
 
Dan juga disebutkan didalam Al-Khulashah al-Fiqhiyyah (1/89) karya al-Qarawi,“Sunnah : puasa Rajab”.  Al-Nafrawi didalam al-Fawakihud Dawani (8/40) juga berkata : “Diantara bulan yang dianjurkan berpuasa adalah bulan Rajab”.
 
Imam An-Nawawi didalam al-Majmu’ (6/386) mengatakan : “Ulama Syafi’iyah kami berkata: termasuk diantara puasa yang disunnahkan adalah puasa Asyhurul Hurum yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, sedangkan tingkatan yang lebih utama adalah puasa Muharram. Ada juga ulama kami yaitu Al-Ruyani didalam kitab al-Bahr yang mengatakan kalau tingkatan yang lebih utama itu puasa Rajab, namun ini tidak tepat berdasarkan hadits Abu Hurairah yang nanti akan kami sebutkan, InsyaAllah Ta’alaa : (Puasa yang lebih utama setelah Ramadlan adalah bulannya Allah, bulan Muharram)”.
 
Setidaknya ada 6 hujjah yang disebutkan oleh Majelis al-Islami lil-Iftaa Baitil Maqdis didalam fatwanya, antara lain :
 
1. Kesunnahkan puasa Rajab didasarkan pada keumuman hadits-hadits yang memang mensunnahkan puasa kapanpun sepanjang tahun, kecuali hari-hari yang memang dikecualikan oleh nas syara’ (yaitu hari-hari yang diharamkan berpuasa).
 
Nabi SAW telah menganjurkan puasa hari senin dan kamis, puasa 3 hari pada ayyamul bidh, puasa Daud dan puasa Sararusy Syahr. Perihal sararusy Syahr, sebagian ulama mengatakan bahwa itu awal bulan, sebagian lagi mengatakan pertengahan bulan dan sebagian lagi mengatakan akhir bulan. Puasa pada waktu-waktu tersebut adalah sunnah setiap bulannya, sama saja apakah itu pada bulan Rajab atau bulan-bulan lainnya, kecuali pada waktu yang memang nyata pelarangannya. Dan sama saja apakah dalam perpuasa tersebut karena memang orang itu sudah biasa melakukannya atau bukan kebiasaannya. Atau puasa dengan niat melatih diri dalam berpuasa menyambut bulan Ramadlan.
 
2. Terdapat hadits-hadits khusus terkait fadlilah (keutamaan) puasa Muharram dan Rajab. Diantaranya, seperti yang disebutkan didalam shahih Muslim, bahwa Utsman bin Hakim al-Anshari pernah berkata :
 
أن عثمان بن حكيم الأنصاري قال: سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب ونحن يومئذ في رجب فقال: سمعت ابن عباس يقول: "كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر، ويفطر حتى نقول لا يصوم
“Aku pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab dan ketika itu kami berada di bulan Rajab. Ia menjawab : Aku mendengar Ibnu ‘Abbaas berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wa sallam senantiasa berpuasa hingga kami berkata : “Beliau tidak pernah berbuka”. Dan beliau pun pernah berbuka hingga kami berkata : ‘Beliau tidak pernah berpuasa”.
 
Kemudian juga hadits Mujibah al-Bahiliyah yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Ibnu Majah. Kemudian Imam al-Nawawi memberikan komentar didalam kitabnya, Al-Majmu’, mengenai perkataan Nabi SAW didalam hadits Mujibah
 
صم من الحرم واترك
“Puasalah daripada bulan Haram dan tinggalkanlah”.
 
Perintah meninggalkan tersebut karena memberatkan atas banyaknya puasa yang dilakukannya sebagaimana disebutkan pada awal hadits, adapun bagi orang yang tidak berat, maka berpuasa seluruhnya merupakan keutamaan.
 
3. Hadits berikutnya adalah hadits Usamah bin Ziyad, ia berkata :
 
- عن أسامة بن زيد رضي الله عنهما قال: قلت: يا رسول الله، لم أرك تصوم من شهر من الشهور ما تصوم من شعبان؟ قال: "ذاك شهر يغفل الناس عنه بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم
“Ya Rasulullah,  aku tidak melihat engkau berpuasa selama sebulan pada bulan-bulan lainnya sebagaiman engkau berpuasa pada bulan Sya’ban. Nabi menjawab : “Itu adalah bulan yang manusia lalai darinya, bulan antara Rajab dan Ramadlan,  itu adalah bulan dimana pada saat itu amal-amal diangkat kepada Allah Rabb penguasa Alam, dan aku senang bila Allah mengangkat amalku sedangkan aku dalam keadaan puasa”.
 
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasaa-i, dan seorang ulama Saudi bernama Albanni telah menghasankan hadits ini didalam kitabnya al-Targhib (1/247).
 
Sisi pengambilan dalil dari hadits diatas adalah bahwa umat Islam giat berpuasa pada bulan Rajab, tapi melalaikannya pada bulan Sya’ban, dan mereka kembali berpuasa pada bulan Ramadhan, sehingga dari hal itu, sungguh puasa bulan Rajab merupakan perkara yang disunnahkan, dan itu sudah dimaklumni oleh umat Islam.
 
Bahkan Imam al-Syaukani didalam kitabnya Nailul Awthar (4/291), memberikan komentarnya bahwa, “Dhohir perkataan Nabi SAW didalam hadits Usamah adalah bulan Sya’ban merupakan bulan antara Rajab dan Ramadlan yang umat Islam melalaikannya sementara sesungguhnya disunnahkan puasa bulan Rajab, karena dhahirnya menunjukkan bahwa mereka lalai dalam mengangungkan bulan Sya’ban dengan melakukan puasa, semantara mereka mengagungkan dengan berpuasa pada bulan Ramadlan dan Rajab”.
 
4.  Telah warid dalam hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan puasa Rajab, meskipun itu dloif, akan tetapi hadits dloif tetap diamalkan didalam hal fadloil.
 
5. Juga telah warid bahwa sejumlah sahabat Nabi SAW memang berpuasa pada Asyhurul Hurum, diantaranya adalah sahabat Al-Hasan, Ibnu ‘Umar dan lain sebagainya. Sebagaimana disebutkan didalam Mushannaf Abi Syaibah (2/457) dan Mushannaf Abdul Razaq (4/294).
 
6. Kemudian juga, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang berasal dari Ibnu ‘Abbas bahwa “Nabi SAW melarang daripada berpuasa bulan Rajab”, ini adalah hadits dloif. Ibnu Taimiyah, sebagaimana didalam al-Fatawa al-Kubra (2/479) : “Sungguh Ibnu Majah telah meriwayatkan didalam sunan-nya dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi SAW, bahwa beliau melarang daripada puasa bulan Rajab, dan didalamnya sanadnya perlu diteliti lagi (fi isnadihi nadhar)”. Atas hal tersebut (hadits yg melarang adl dlaif), maka sesungguhnya puasa didalam bulan Rajab merupakan hal yang dianjurkan sebagaimana telah kami tuturkan sebelumnya.
 
Demikianlan keputusan dewan majelis fatwa Baitul Maqdis.
AL-MAJLIS AL-ISLAMI LIL-IFTAA
10 RAJAB 1430 H / 3 JULI 2009 M
 
Dewan Fatwa Yordania : Hukum Puasa Rajab
 
Dewan Fatwa negeri Yordania juga pernah ditanya mengenai hokum puasa di bulan Rajab, berikut adalah intisari jawabannya :
 
Alhamdulillah, wash Shalatu wassalamu ‘alaa Sayyidina Muhammad. Pendapat Jumhur ulama dari kalangan Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan sebagian dari Hanabilah menyatakan kesunnahan puasa dibulan Rajab, sebagaimana disunnahkannya puasa pada Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dimulyakan) yakni Muharram, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah.
 
Mereka beristidlal dengan sebagian hadits-hadits yang warid, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasaa-i (2357). Kemudian mereka memberikan komentar bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa-i memberikan petunjukan bahwa bulan Rajab dan bulan Ramadhan merupakan bulan ibadah dan ta’at yang umat Islam tidak pernah melalaikannya.
 
Juga warid hadits-hadits yang lain dimana sanadnya memang lemah sebagaimana yang dikomentari oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, diantaranya hadits (صم من الحرم واترك) yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, akan tetapi ulama berkata : hadits-hadits dloif tetap diamalkan didalam hal fadloillul a’mal, adapun hadits-hadits maudlu’ yang diriwayatkan terkait keutamaan bulan Rajab maka wajib berhati-hati dengan hal itu.
 
Ibnu Hajar Al-Haitami memberikan penjelasan didalam Al-Fatawa Al-Fiqhiyah al-Kubro (2/54) sebagai berikut, ‘Hadits-hadits yang diriwayatkan terkait keutamaan puasa memang banyak yang maudlu’, dan pada imam-imam kita (syafi’iyah) dan para imam yang lainnya tidak menjadikannya sebagai sandaran kesunnahan puasa, akan tetapi mereka menggunakan sandaran yang lain – telah disebutkan sebagian hadits-hadits dloif kemudian mengomentari – dan sungguh telah ditetapkan bahwa hadits dloif, hadits mursal, hadits munqathi’, hadits mu’dlol dan hadits mauquf tetap diamalkan didalam hal fadloil secara Ijma’, dan tidak diragukan lagi bahwa puasa Rajab termasuk dari fadlailul a’mal, maka sudah mencukupi didalam kaidah hokum menggunakan hadits-hadits dloif dan seumpamanya”
 
Selanjutnya yang lebih populer pada madzhab Hanabilah adalah pendapat yang memakruhkan menyendirikan puasa Rajab, dimana itu ditakutkan umat akan menganggap puasa tersebut sebagai kefardluan sebagaimana puasa Ramadlan. Oleh karenanya warid dari atsar sebagian sahabat Nabi SAW.
 
Yang mana ulama kemudian berdalil dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Syaibah didalam al-Mushannaf (2/345) dari Kharsyah bin al-Harr, “Aku melihat ‘Umar memukul telapak tangan sahabat yang berpuasa pada bulan Rajab, hingga mereka meletakkan tangannya pada jifan hidangan, Umar pun berkata : “Makanlah, sebab itu adalah bulan yang ahlul jahiliyyah mengagungkannya”, hadits ini bisa di lihat juga didalam kitab Al-Mughni li-Ibni Qudamah.
 
Jawaban atas kejadian ini adalah, sebenarnya Umar bin Khaththab hanya ingin mencegah dari menyerupakan / menyamakan bulan Rajab  dengan bulan Ramadlan sehingga umat tidak menyakini puasa Rajab seolah diwajibkan sebagaiman puasa Ramadhan, makanya ia mencegah sebagian sahabat yang perpuasa, khawatir mereka memiliki dugaan seperti yang demikian, itu adalah kebijaksaan dari Umar radliyallahu ‘anh.
 
Oleh karena itu, ulama Hanabilah mengatakan terkait hokum makruh yang pernah disampaikan oleh sebagian ulama Hanabilah, yaitu kemakruhan puasa Rajab tersebut bisa hilang kalau  berbuka (tidak puasa) satu hari saja didalam bulan Rajab (alias puasanya tidak penuh). Atau berpuasa pada bulan-bulan yang lain secara penuh supaya tidak menyendirikan bulan Rajab saja dalam berpuasa.
 
Maka barangsiapa bisa melakukan puasa-puasa sunnah, memperbanyak puasa pada bulan Rajab akan mendapatkan pahala didalamnya, tidak ada yang mengingkari satu pun hal itu daripada fuqaha 4 madzhab yang mu’tamad . Wallahu A’lam.
 
DEWAN FATWA NEGERI YORDANIA
Dikeluarkan oleh Lajnah al-Iftaa, no Fatwa 1878, tanggal 30 Juni 2011
 

 

Beberapa Tambahan !!
 
Sesungguhnya jika dilihat dari komentar-komentar ulama, maka mereka sepakat atas kesunnahannya, namun perselisihan hanya ada pada sebagian Hanabilah. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumhur ulama dari Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah, bahkan Zaidiyah (Imam al-Syaukani) serta sebagian Hanabilah menyatakan kesunnahkan puasa Rajab sepenuhnya.
 
Adapun perselisihan sebagian Hanbilah yang menyatakan makruh, itu hanya kalau menyendirikan puasa Rajab secara penuh sedangkan bulan-bulan yang lainnya tidak melakukannya. Dan hukum kemakruhan itupun dapat dihilangkan kalau didalam satu bulan tersebut tidak puasa (berbuka) 1 hari atau 2 hari saja, atau dengan perpuasa juga pada bulan yang lainnya.
 
Berikut sebagai tambahan komentar ulama Malikiyah didalam Syarh Ad-Dardir ‘ala Kholil (1/513) :  “dan dianjurkan puasa (Muharram, Rajab dan Sya’ban) dan seperti inilah 4 bulan haram, sedangkan urutan yang lebih afdlol adalah Muharram, kemudian Rajab, kemudian Dzul Qa’dah, dan terakhir adalah Dzul Hijjah”.
 
Kifayah Al-Thalib Al-Rabbani (2/407) “dan seperti itu juga puasa bulan Rajab adalah dianjurkan”
 
Syarh Al-Kharasyi alaa al-Kholil (2/241),  “(Bulan Muharram, Rajab dan Sya’ban) yakni disunnahkan puasa pada bulan Muharram dan itu bulan mulya yang pertama, kemudian Rajab dan itu bulan yang tersendiri dari Asyhurul Hurum. Ih. Dan didalam Hasyiyahnya, (qauluhu : Rajab) bahkan sunnah berpuasa pada 4 bulan yang mulya dan yang lebih utama adalah bulan Muharram, kemudian Rajab, kemudian Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah”.
 
Ibnu Qudamah mewakili Hanabilah didalam Al-Mughni (3/53),“Dimakruhkan menyendirikan puasa Rajab, Imam Ahmad berkata “apabila seseorang berpuasa Rajab, berbukalah didalamnya sehari atau beberapa hari, dengan kadar tidak dikatakan sebagai puasa penuh sebulan”, Imam Ahmad juga berkata “barangsiapa yang berpuasa setahun, silahkan ia berpuasa, dan jika tidak, maka janganlah puasa terus-terusan, berbukalah ia didalamnya dan tidak menyerupai dengan puasa Ramadlan”.
 
Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshori didalam Asnal Matholib (1/433) “Urutan bulan-bulan yang utama untuk puasa setelah bulan Ramadlan adalah Asyhurul Hurum yakni Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab”
 
Dan masih banyak lagi komentar ulama yang mensunnahkan seperti didalam Hasyiyah al-‘Adawi, Hasyiyah Ad-Dasuqi, Taj wal Iykil (3/220), Hasyiyah Imam Ramli, Fatwa ‘Izzuddin bin Abdissalam, al-Furu’ li-Ibni Muflah, dan lain sebagainya.
 
 
Redaktur : AR
 

Comments   

 
0 #2 Jaket kulit 2012-08-05 00:10
marhaban ya ramadhan
Quote
 
 
0 #1 abu adam suud 2012-06-12 06:06
[fv]asyahrul harom[/fv]
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Pengunjung Sejak 07 Mei 2012

573640
Hari IniHari Ini450
KemarenKemaren630
Pekan IniPekan Ini4514
Bulan IniBulan Ini8752
TotalTotal573640

Mau kirim tulisan ?

Kami membuka peluang bagi masyarakat secara umum dan para pemuda atau pelajar (siswa, mahasiswa, maupun santri) untuk mengirimkan tulisan dan info-info kepada kami.

Tulisan (artikel) dan info-info yang sesuai dengan visi dan misi MADINATUL IMAN akan dipublikasikan non komersial di website Madinatuliman.com. Selengkapnya baca disini>>

Hubungi Kami

Redaksi, kontribusi, iklan dan donasi hubungi This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. . Contact : 089690264267 (SMS Only)

Alamat Markaz : Jalan Pesantren Syaichona Cholil Sepinggan atau Jl. Mulawarman RT. 21 No. 165 Sepinggan - Balikpapan, Kalimantan Timur. Kode Pos 76115.

Visi, Misi dan Diclaimer (Baca disini)

 

MADINATULIMAN.COM © 1434 H / 2013 M | MEDIA PUBLIKASI, INSPIRASI DAN RUJUKAN - BALIKPAPAN KALIMANTAN TIMUR